Disusun Oleh :
Nama Anggota :
-Adeliya
-Agustina Rosita Dewi
-Ayu Lestari
-Inna Farhaniyah
Kelas : XII.3 Medis
Sekolah
Menengah Kejuruan ( SMK ) Rise Kedawung
Jl.Brigjen Darsono (By Pass) No.12B By Pass Cirebon
45153 Telp. (0231) 330235
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas
segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam
profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki
bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.
Cirebon, maret 2015
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
B. Tanda dan Gejala
C. Macam – Macam Waham
D. Rentang Respon Waham
E. Penyebab
F. Akibat dari waham
G. Faktor Predisposisi
H. Faktor Presipitasi
G. Penatalaksanaan WAHAM
K. Rencana Keperawatan WAHAM
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Waham merupakan salah satu gangguan orientasi
realitas. Gangguan orientasi realitas adalah ketidakmampuan klien menilai dan
berespons pada realitas. Klien tidak dapat membedakan rangsangan internal dan
eksternal, tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Klien tidak mampu
memberi respons secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti
dan mungkin menakutkan.
Gangguan orientasi realitas disebabkan oleh fungsi
otak yang terganggu yaitu fungsi kognitif dan isi fikir; fungsi persepsi,
fungsi emosi, fungsi motorik dan fungsi sosial. Gangguan pada fungsi kognitif
dan persepsi mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. Gangguan
fungsi emosi, motorik dan sosial mengakibatkan kemampuan berespons terganggu
yang tampak dari perilaku non verbal (ekspresi muka, gerakan tubuh) dan
perilaku verbal (penampilan hubungan sosial). Oleh karena gangguan orientasi
realitas terkait dengan fungsi otak maka gangguan atau respons yang timbul
disebut pula respons neurobiologik.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Waham?
2.
Apa saja tanda dan gejala dari Waham?
3.
Apa itu macam – macam Waham?
4.
Apa saja penyebab dan akibat dari Waham?
C. Tujuan
Tujuan
penulisan makalah ini yaitu supaya pembaca dapat mengerti dan memahami definisi
dari Waham, tanda gejala waham, macam – macam waham dan pembaca juga dapat
mengetahui penyebab dan akibat dari gangguan proses pikir waham.
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan
penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat
intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor
pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada
kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999).
Waham adalah keyakinan tentang suatu
pikiran yang kokoh, kuat, tidak sesuai dengan kenyataan, tidak cocok dengan
intelegensia dan latar belakang budaya, selalu dikemukakan berulang-ulang dan
berlebihan biarpun telah dibuktikan kemustahilannya atau kesalahannya atau
tidak benar secara umum. (Tim Keperawatan PSIK FK UNSRI, 2005).
Waham adalah keyakinan keliru yang
sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan menggunakan logika (Ann Isaac,
2004)
B. Tanda
dan Gejala :
1.
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang
agama, kebesaran,
2.
kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan
3.
Klien tampak tidak mempunyai orang lain
4.
Curiga
5.
Bermusuhan
6.
Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
7.
Takut, sangat waspada
8.
Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
9.
Ekspresi wajah tegang
10.
Mudah tersinggung
C. Macam – macam waham yaitu :
1. Waham agama: percaya
bahwa seseorang menjadi kesayangan supranatural atau alat supranatural
2. Waham somatik:
percaya adanya gangguan pada bagian tubuh
2
3. Waham kebesaran:
percaya memiliki kehebatan atau kekuatan luar biasa
4. Waham curiga:
kecurigaan yang berlebihan atau irasional dan tidak percaya dengan orang lain
5. Siar pikir: percaya
bahwa pikirannya disiarkan ke dunia luar
6. Sisip pikir: percaya
ada pikiran orang lain yang masuk dalam pikirannya
7. Kontrol pikir: merasa
perilakunya dikendalikan oleh pikiran orang lain
D.
RENTANG RESPON WAHAM
|
|
-
Pikiran
logis - proses pikir
terganggu - gangguan proses pikir/waham
-
Persepsi
akurat - Ilusi
-
PSP : halusinasi
-
Emosi
konsisten - Emosi berlebihan - Kesukaran proses emosi
dengan pengalaman - Perilaku yang tidak biasa -
Perilaku tidak sesuai
-
Perilaku
sesuai - Menarik diri -
isolasi sosial terorganisir
-
Hubungan
Social
E.
Penyebab
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir :
waham yaitu Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah
penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan
sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan
merasa gagal mencapai keinginan.
Tanda dan Gejala :
1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit
dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
2.
Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
3.
Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
4.
Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
3
5.
Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang
suram, mungkin klien akan mengakhiri kehidupannya. ( Budi Anna Keliat, 1999)
F. Akibat dari
Waham
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko
mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu
tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan
lingkungan.
Tanda dan Gejala :
1.
Memperlihatkan permusuhan
2. Mendekati
orang lain dengan ancaman
3.
Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
4.
Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
5.
Mempunyai rencana untuk melukai
G. Faktor presdisposisi
·
Faktor
perkembangan
Hambatan perkembangan akan menggangu
hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan
ansietas yang berakir dengan gangguan presepsi, klien menekankan perasaan nya
sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif
·
Faktor
sosial budaya
Seseorang yang merasa di asingkan
dan kesepian dapat menyebabkan timbul nya waham
·
Faktor
psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran
ganda bertentangan dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran
terhadap kenyataan
·
Faktor
biologis
Waham di yakini terjadi karena ada
nya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak atau perubahan pada sel kortikal
dan lindik
·
Faktor
genetik
H.
Faktor presipitasi
·
Faktor
sosial budaya
Waham dapat di picu karena ada nya
perpisahan dengan orang yang berarti atau di asingkan
4
dari kelompok.
·
Faktor
biokimia
Dopamin, norepinepin, dan zat
halusinogen lain nya di duga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang
·
Faktor psikologis
Kecemasan yang memanjang dan
terbatasan nya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan
koping untuk menghindari kenyataan yang menyenagkan.
G. Penatalaksanaan WAHAM
1.
Psikofarmakologi
2. Pasien
hiperaktif / agitasi anti psikotik low potensial
3. penarikan diri
high potensial
4. ECT tipe
katatonik
5. Psikoterapi
6. Perilaku,
terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif
K. Rencana
Keperawatan WAHAM
Diagnosa Keperawatan 1:
kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
2. Tujuan khusus :
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya
dengan perawat
Tindakan :
Tindakan :
· Bina hubungan. saling
percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi,
ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
b) Klien dapat
mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
·
Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
·
Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini
yang realistis.
·
Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini
(kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
·
Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham
tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
5
c) Klien dapat
mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan :
·
Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
·
Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di
rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah)
·
Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
·
Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu
dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
·
Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
d) Klien dapat berhubungan
dengan realitas
Tindakan :
·
Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan
waktu).
·
Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
·
Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
e) Klien dapat menggunakan
obat dengan benar
Tindakan :
·
Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping minum obat
·
Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis,
cara dan waktu).
·
Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
·
Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
f) Klien dapat
dukungan dari keluarga
Tindakan :
·
Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham,
cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
·
Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.
Diagnosa Keperawatan 2:
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham
1. Tujuan Umum:
Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan
lingkungan.
2. Tujuan Khusus:
a) Klien
dapat membina hubungan saling percaya.
6
Tindakan:
·
Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan
jelaskan tujuan interaksi.
·
Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
·
Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
·
Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.
b) Klien
dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
·
Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
·
Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
·
Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap
tenang.
c)
Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
·
Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
·
Observasi tanda perilaku kekerasan.
·
Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
d) Klien
dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
·
Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
·
Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
·
Tanyakan “apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?”
e) Klien
dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
·
Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
·
Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
·
Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
f)
Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap
kemarahan.
Tindakan :
·
Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
·
Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang
kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur.
·
Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
·
Secara spiritual : berdo’a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi
kesabaran.
7
g) Klien dapat
mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
·
Bantu memilih cara yang paling tepat.
·
Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
·
Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
·
Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
·
Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
h) Klien
mendapat dukungan dari keluarga.
Tindakan :
·
Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan
keluarga.
·
Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
i)
Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
Tindakan:
·
Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping)
·
Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis,
cara dan waktu).
·
Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
Diagnosa Keperawatan 3:
Perubahan isi pikir : waham ( …….. ) berhubungan dengan harga diri rendah
1. Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri
rendah/klien akan meningkat harga dirinya.
2. Tujuan khusus :
a) Klien dapat membina hubungan
saling percaya
Tindakan :
· Bina
hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu,
tempat dan topik pembicaraan)
· Beri
kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
·
Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
·
Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan
bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
8
b) Klien dapat mengidentifikasi
kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
Tindakan :
· Diskusikan
kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
·
Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi
pujian yang realistis
·
Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
c) Klien dapat menilai kemampuan
yang dapat digunakan
Tindakan :
·
Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
·
Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
d) Klien dapat menetapkan /
merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
·
Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
·
Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
·
Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
e) Klien dapat melakukan kegiatan
sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
·
Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
·
Beri pujian atas keberhasilan klien
·
Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
f) Klien dapat memanfaatkan
sistem pendukung yang adA
Tindakan :
·
Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
·
Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
·
Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
·
Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
9
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan
selalu dikemukakan berulang-ulang. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak
sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar
belakang kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilannya.
10
DAFTAR
PUSTAKA
Stuart GW, Sundeen,
Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 thed.). St.Louis Mosby Year
Book, 1995
http://iloslayers.blogspot.com/2011/05/asuhan-keperawatan-pasien-dengan.html
11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar