Selasa, 16 Februari 2016

Makalah Askep Waham







Disusun Oleh :

          Nama Anggota :

                   -Adeliya 
-Agustina Rosita Dewi
-Ayu Lestari
-Inna Farhaniyah

Kelas    : XII.3 Medis





Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) Rise Kedawung
Jl.Brigjen Darsono (By Pass) No.12B By Pass Cirebon 45153 Telp. (0231)    330235








KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Cirebon, maret 2015






























i
DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
    PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II
   PEMBAHASAN
A. Pengertian
B. Tanda dan Gejala
C. Macam – Macam  Waham
D. Rentang Respon Waham
E. Penyebab
F. Akibat dari waham
G. Faktor Predisposisi
H. Faktor Presipitasi
G. Penatalaksanaan WAHAM
K. Rencana Keperawatan WAHAM
BAB III
   PENUTUP
A. Kesimpulan
   DAFTAR PUSTAKA











ii
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang

Waham merupakan salah satu gangguan orientasi realitas. Gangguan orientasi realitas adalah ketidakmampuan klien menilai dan berespons pada realitas. Klien tidak dapat membedakan rangsangan internal dan eksternal, tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Klien tidak mampu memberi respons secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan.
Gangguan orientasi realitas disebabkan oleh fungsi otak yang terganggu yaitu fungsi kognitif dan isi fikir; fungsi persepsi, fungsi emosi, fungsi motorik dan fungsi sosial. Gangguan pada fungsi kognitif dan persepsi mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. Gangguan fungsi emosi, motorik dan sosial mengakibatkan kemampuan berespons terganggu yang tampak dari perilaku non verbal (ekspresi muka, gerakan tubuh) dan perilaku verbal (penampilan hubungan sosial). Oleh karena gangguan orientasi realitas terkait dengan fungsi otak maka gangguan atau respons yang timbul disebut pula respons neurobiologik.

B.    Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Waham?
2.      Apa saja tanda dan gejala dari Waham?
3.      Apa itu macam – macam Waham?
4.      Apa saja penyebab dan akibat dari Waham?

C.    Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu supaya pembaca dapat mengerti dan memahami definisi dari Waham, tanda gejala waham, macam – macam waham dan pembaca juga dapat mengetahui penyebab dan akibat dari gangguan proses pikir waham.




1
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999).
Waham adalah keyakinan tentang suatu pikiran yang kokoh, kuat, tidak sesuai dengan kenyataan, tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang budaya, selalu dikemukakan berulang-ulang dan berlebihan biarpun telah dibuktikan kemustahilannya atau kesalahannya atau tidak benar secara umum. (Tim Keperawatan PSIK FK UNSRI, 2005).
Waham adalah keyakinan keliru yang sangat kuat yang tidak dapat dikurangi dengan menggunakan logika (Ann Isaac, 2004)

B.    Tanda dan Gejala :
1.      Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran,
2.      kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan
3.      Klien tampak tidak mempunyai orang lain
4.      Curiga
5.      Bermusuhan
6.      Merusak (diri, orang lain, lingkungan)
7.      Takut, sangat waspada
8.      Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas
9.      Ekspresi wajah tegang
10. Mudah tersinggung

C.     Macam – macam waham yaitu :
1.      Waham agama: percaya bahwa seseorang menjadi kesayangan supranatural atau alat supranatural
2.      Waham somatik: percaya adanya gangguan pada bagian tubuh
2
3.      Waham kebesaran: percaya memiliki kehebatan atau kekuatan luar biasa
4.      Waham curiga: kecurigaan yang berlebihan atau irasional dan tidak percaya dengan orang lain
5.      Siar pikir: percaya bahwa pikirannya disiarkan ke dunia luar
6.      Sisip pikir: percaya ada pikiran orang lain yang masuk dalam pikirannya
7.      Kontrol pikir: merasa perilakunya dikendalikan oleh pikiran orang lain

D.    RENTANG RESPON WAHAM

Respon adaptif                                                                             Respon maladaptif



-       Pikiran logis                - proses pikir terganggu                       - gangguan proses pikir/waham
-       Persepsi akurat            - Ilusi                                                   - PSP : halusinasi
-       Emosi konsisten          - Emosi berlebihan                              - Kesukaran proses emosi
dengan pengalaman         - Perilaku yang tidak biasa                  - Perilaku tidak sesuai
-       Perilaku sesuai            - Menarik diri                                      - isolasi sosial terorganisir
-       Hubungan Social       
                                        
E.     Penyebab
Salah satu penyebab dari perubahan proses pikir : waham yaitu Gangguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, dan merasa gagal mencapai keinginan.
Tanda dan Gejala :
1.       Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan tindakan terhadap penyakit (rambut botak karena terapi)
2.        Rasa bersalah terhadap diri sendiri (mengkritik/menyalahkan diri sendiri)
3.        Gangguan hubungan sosial (menarik diri)
4.        Percaya diri kurang (sukar mengambil keputusan)
3
5.        Mencederai diri (akibat dari harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin klien akan mengakhiri kehidupannya. ( Budi Anna Keliat, 1999)
F.   Akibat dari Waham
Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
Tanda dan Gejala :
1.      Memperlihatkan permusuhan
2.      Mendekati orang lain dengan ancaman
3.      Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
4.      Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan
5.      Mempunyai rencana untuk melukai

G.    Faktor presdisposisi
·         Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan menggangu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakir dengan gangguan presepsi, klien menekankan perasaan nya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif
·         Faktor sosial budaya
Seseorang yang merasa di asingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbul nya waham
·         Faktor psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda bertentangan dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan
·         Faktor biologis
Waham di yakini terjadi karena ada nya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak atau perubahan pada sel kortikal dan lindik
·         Faktor genetik

H.     Faktor presipitasi
·         Faktor sosial budaya
Waham dapat di picu karena ada nya perpisahan dengan orang yang berarti atau di asingkan
4
dari kelompok.
·         Faktor biokimia
Dopamin, norepinepin, dan zat halusinogen lain nya di duga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang
·         Faktor psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasan nya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenagkan.

G. Penatalaksanaan WAHAM
1.    Psikofarmakologi
2.    Pasien hiperaktif / agitasi anti psikotik low potensial
3.    penarikan diri high potensial
4.    ECT tipe katatonik
5.    Psikoterapi
6.    Perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, terapi supportif

K. Rencana Keperawatan WAHAM
Diagnosa Keperawatan 1: kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
1.  Tujuan umum :
Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
2.  Tujuan khusus :
a)   Klien dapat membina hubungan   saling   percaya dengan           perawat
Tindakan :
·      Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
b)     Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
·       Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
·       Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
·       Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari hari dan perawatan diri).
·       Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
5
c)      Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan :
·       Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
·       Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah)
·       Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
·       Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
·       Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
d)     Klien dapat berhubungan dengan realitas
Tindakan :
·       Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
·       Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
·       Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
e)     Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Tindakan :
·       Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat
·       Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
·       Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan
·       Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
f)       Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan :
·       Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
·       Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.

Diagnosa Keperawatan 2: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham
1.  Tujuan Umum:
Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
2.  Tujuan Khusus:
a)     Klien dapat membina hubungan saling percaya.
6
Tindakan:
·       Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
·       Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
·       Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
·       Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.
b)     Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
·       Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
·       Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
·       Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.
c)      Klien dapat mengidentifikasi tanda tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
·       Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
·       Observasi tanda perilaku kekerasan.
·       Simpulkan bersama klien tanda tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
d)     Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
·       Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
·       Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
·       Tanyakan “apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?”
e)     Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
·       Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
·       Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
·       Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
f)       Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
·       Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
·       Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur.
·       Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
·       Secara spiritual : berdo’a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.

7
g)     Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
·       Bantu memilih cara yang paling tepat.
·       Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
·       Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
·       Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
·       Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
h)     Klien mendapat dukungan dari keluarga.
Tindakan :
·       Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.
·       Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
i)       Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
·       Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping)
·       Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
·       Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

Diagnosa Keperawatan 3: Perubahan isi pikir : waham ( …….. ) berhubungan dengan harga diri rendah
1.    Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya.
2.    Tujuan khusus :
a)    Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
·      Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
·      Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
·      Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
·      Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

8
b)    Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
·      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
·      Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis
·      Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
c)     Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
·      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
·      Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
d)    Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
·       Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
·       Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
·       Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

e)    Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
·       Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
·       Beri pujian atas keberhasilan klien
·       Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
f)     Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang adA
Tindakan :
·       Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
·       Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
·       Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
·       Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga



9
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Waham adalah keyakinan yang salah dan menetap dan selalu dikemukakan berulang-ulang. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilannya.















10
DAFTAR PUSTAKA

Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 thed.). St.Louis Mosby Year Book, 1995
http://iloslayers.blogspot.com/2011/05/asuhan-keperawatan-pasien-dengan.html














11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar